selamat datang di blog saya....!!!!

ragam budaya bangsa indonesia

Pages

Rabu, 03 Juli 2013

kesenian kuda lumping JAWA TENGAH



Jaranan, Kesenian Jawa yang Tak Lekang oleh Zaman
Kamis, 6 Desember 2012 12:23 wib

Ilustrasi tarian kuda lumping (Foto: Koran SI)

JOMBANG- Sejumlah pemain seni tradisional jaranan mengikuti iringan alat musik gamelan. Tak berapa lama, mereka jatuh menggelepar sambil tetap mengapit kuda lumping di antara kaki. Pelan-pelan mereka bangkit. Mata mereka merah sambil sesekali mendelik hingga hanya terlihat putihnya saja.

Musik gamelan yang semula mengalun pelan, kini menjadi rancak, bersamaan dengan para penari jaranan yang kehilangan kesadarannya. Mereka menari sambil berputar-putar tak beraturan.

Mendadak, mereka menyerang para penonton yang berdiri melingkar menyaksikan pertunjukan acara bersih desa di halaman kantor Kepala Desa Tunggorono, Kecamatan Jombang, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Akibatnya, ratusan penonton pun kocar-kacir menyelamatkan diri.

Dalam seni tradisional jaranan, kesurupan atau kehilangkan kesadaran pemain merupakan bagian utama dari atraksi sehingga wajib ditampilkan. Namun bila yang mengalami kesurupan terlalu banyak, sang pawang akan kewalahan dan membuat para penonton lari tunggang langgang.

Seni jaranan merupakan salah satu seni tradisional masyarakat Jawa. Berdasarkan sejarahnya, jaranan muncul kali pertama sekira 1041 Masehi atau pada masa Kerajaan Panjalu (Kediri) yang pada masa itu dipimpin Raja Airlangga.

Seni jaranan muncul setelah Dewi Sangga Langit, putri Raja Airlangga, hendak dipersunting sejumlah tokoh dari kerajaan-kerajaan tetangga.

Untuk menentukan pelamar yang akan diterima, Dewi Sangga Langit membuat sayembara. Pelamar yang diterima menjadi suaminya harus mampu menciptakan kesenian yang belum pernah ada di tanah Jawa.

Sejumlah pangeran dari kerajaan tetangga pun ikut dalam sayembara tersebut. Hingga tiba giliran Klana Sewandana dari Kerajaan Wengker yang menampilkan jaranan. Para  penari bertopeng naga yang kehilangan kesadaran sambil menunggangi kuda lumping ternyata mampu menarik perhatian Sang Putri.

Sejak itulah seni jaranan yang identik dengan tari kuda lumping itu bertahan hingga saat ini.Bukan hal mudah untuk melestarikan jaranan. Agar tetap disukai masyarakat, seniman seringkali mengolaborasikannya dengan atraksi-atraksi debus, seperti makan bunga, beling, atau menelan ular hidup.

Seperti disampaikan salah seorang seniman, Sugeng, dia sengaja menggunakan cara itu agar jaranan tidak kalah dan tergerus oleh budaya asing. Sugeng yakin, jaranan bisa terus bertahan karena memiliki penggemar tersendiri.

Hingga saat ini Sugeng beserta seniman lainnya masih sering tampil di berbagai acara rata-rata lima sampai tujuh kali per bulan. (tbn)

0 komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
Histats.com © 2005-2012 Privacy Policy - Terms Of Use - Powered By Histats

news.detik